Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Drama Kuliah Hari Ini

Jadi hari ini harusnya dosen datang jam 13.00, tapi ternyata beliau nggak bisa jam segitu dan minta jam 14.00. Habis tutorial cepet - cepet naik, ke kelas. Eh ternyata belum datang dan nunggu sampai jam 14.30 belum datang juga. Sekelas udah berniat untuk tutorial mandiri buat latihan kalau dosen nggak datang sampai jam 14.45 Akhirnya teman ngehubungin buat ganti jadwal aja, udah pada turun dan begitu pintu lift kebuka ada whatsapp dari dosen jam 14.47 kalau beliau udah di gedung. Langsung tuh semua baru keluar lift, naik lagi. Pelajaran; dosen ditunggu sampai jamnya selesai aja.

Sims-tale

Gambar
I'm back with another sims-fairytale. I have a good news.  Elizabeth is growing up! Dia baru aja merayakan ulang tahun ke 1 beberapa hari yang lalu. Actually, I'm surprised. She looks like her father aka Vincent. Aku mikir dia bakalan dapet wajahnya Athena karena dia cewek ._. Di usia ini Elizabeth udah bisa potty time dan dapet hug yang lucu banget serius deh.     Jadinya kemarin aku bikin ceritanya kedua orang tua itu sedang ada urusan masing - masing. Vincent lagi datang di special event dari The Sims Mobile buat memenuhi misi harian sementara Annelisse sedang jalan bareng temannya yang dulu lama dekat cielah. I'm sure they're just friend. Because Annelisse loves Vincent so much. Mereka cuman jalan karena dia sudah menjadi sahabat Annelisse sejak awal.  And by the way, Vincent is not a chef anymore. Dia memilih meninggalkan karirnya yang sudah bagus di restoran karena dia ingin melanjutkan mimpinya dari dulu. Ya, menjadi seorang dokter. J...

Akankah?

Gambar
“ I know the truth now. You've figured out I'm falling in love with you and you're trying to make me stop by hurting me this way. Well it won't work. One way or another, I'm going to make you care about me. Yes, I am, unless your cold attitude kills me first ." - Julie Garwood    “ I fell in love with his unchanging soul .” - Claudia Gray Rasanya menyenangkan bisa melihatnya dari jauh tanpa ketahuan. Dan merasakan hatimu berdebar saat melihatnya tertawa. Ah, jadi seperti ini rasanya?  Bagaimana jika ketahuan?! Akankah dia menjauh?  Ini memang bukan pertama kalinya, tapi inilah awalnya. Melihatnya lewat bersama temannya saja perhatian itu langsung tumpah kepada gerombolan itu.  Tenang saja, ini awal rasa itu.   Dan jangan khawatir, sampai sekarang reaksi itu masih sama.   “ I don't fancy colors of the face, I'm always attracted to colors of the brain .” ― Michael Bassey Johnson

Suatu Hari

Gambar
pict source: tumblr Suatu hari, ada seorang gadis yang jatuh cinta kembali. Dia senang membaca cerita. Baginya, cerita selalu berakhir indah. Entah itu menyedihkan, atau menyenangkan. Suatu hari, dia memandanginya dari jauh. Menuliskan perasaannya dalam awan. Dalam satu dasawarsa, dia bertanya. Haruskah dia memulai segalanya? Suatu hari, dia menyadari kalau segalanya harus diakhiri. Walau, akhir belum nampak. Segalanya masih mengambang. Mereka bilang, yang berjuang yang akan sampai. Hingga suatu hari, sebuah pertanyaan muncul di benaknya. Bagaimana dia bertahan selama ini? Tapi, dia hanya bungkam. Tidak menjawab pertanyaan sendiri.

Katanya

Gambar
  pict source: google   Katanya, rasanya seperti berjalan diatas awan - awan. Menyenangkan, tapi itu hanya sebuah permulaan. Membuatmu selalu tersenyum, tanpa mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.  Kala itu, jantungmu berdetak kencang melihatnya dari jauh. Tapi sekarang, jantungmu seakan berhenti.  Hari itu, kamu menunggu senyum darinya. Namun sekarang, senyumnya membuatmu takut untuk bertemu.  Dan sore itu, tawanya membuatmu bahagia. Tapi sore tadi, kamu seakan sadar jika bahagiamu bukanlah dia.  Katanya, kamu sosok yang pernah membuat langit gelap menjadi pelangi. Tapi sekarang, mereka percaya kamu yang menjadi kilat.  Tapi sebenarnya, kamu lah sang langit. Tak pernah aku mengerti seperti apa kamu yang sebenarnya. Hanya melihat dari jauh. Langit yang gelap, ya, kamu penuh misteri. Dengan ' katanya ' dari berbagai sisi, kamu menjadi kilat. Kilat yang susah ditebak. Bisa muncul kapan saja, namun tak lama.  ...

Waktu

Karena untuk menjaga hatimu, biarlah aku yang pergi.  Ada satu alasan untuk tetap tinggal, tapi dia memilih pergi. Bagi gadis itu, segala hal setelah kata selamat tinggal sudah berakhir. Meski bibirnya mengucap sudah, tapi nyatanya jauh dilubuk hatinya masih berharap. Waktu itu, gadis ini menarik kopernya. Masih ada dua puluh lima menit lagi. Dia bisa saja membatalkan semuanya, segalanya untuk meraih mimpi - mimpinya. "Sudah siap?" Gadis ini mendongak, melihat sahabatnya dan tersenyum. "Harusnya." "Kenapa lagi?" sahabatnya langsung duduk disampingnya menatapnya heran.  Gadis ini hanya menghela napas panjang. " Hey, you choose this ." Menarik waktu agar jauh dari waktu itu kedatangannya kembali setelah dapat gelar baru. Dilihatnya orang yang terakhir kali menemaninya ke bandara itu, tersenyum. Bersama orang yang terakhir kali direlakannya dari hatinya, yang berbahagia. Sahabatnya, tidak tahu semuanya. Ya, sesederhana itu. Aku n...

Sekali Lagi

Gambar
“ I love you without knowing how, or when, or from where. I love you simply, without problems or pride: I love you in this way because I do not know any other way of loving but this, in which there is no I or you, so intimate that your hand upon my chest is my hand, so intimate that when I fall asleep your eyes close .”  - Pablo Neruda Jika ditanya kapan jantungnya berdetak kencang karena melihat seseorang tersenyum kepadanya, dia bisa mengingatnya. Dan saat ditanya kapan terakhir kali dia merasakan hal itu kembali, dia tidak bisa menjawabnya. Sosok yang tidak bisa dianggap asing dikehidupannya. Masih jelas semuanya didalam ingatannya. Tentang sebuah kisah singkat di penghujung tahun dan sebaris kata yang mengakhiri semuanya. Sosok yang membuat gadis itu merasakan perasaan seperti itu untuk pertama kali dan sosok itu juga yang akan membuat gadis itu tidak pernah melupakannya.  source: tumblr "Apakah kamu tidak menyadari kalau sosok itu cinta pertamamu?" S...

Segala Pembaruan

Gambar
“ And I told him, I said: "One day you're going to miss the subway because it's not going to come. One of these days, it's going to break down and it's not going to come around and everyone else will just wait for the next one or will take the bus, or walk, or run to the next station: they will go on with their lives. And you're not going to be able to go on with your life! You'll be standing there, in the subway station, staring at the tube. Why? Because you think that everything has to happen perfectly and on time and when you think it's going to happen! Well guess what! That's not how things happen! And you'll be the only one who's not going to be able to go on with life, just because your subway broke down. So you know what, you've got to let go, you've got to know that things don't happen the way you think they're going to happen, but that's okay, because there's always the bus, there's always th...

Saat Itu

Gambar
Sore itu satu tahun yang lalu. Kamu ada di sampingku. Aku rindu. Rindu kamu yang membuatku tertawa dan kamu yang selalu menghiburku. Dibawah langit yang mulai gelap kamu menyeritakan harapanmu. Diantara orang yang ada di sekitarmu hanya aku yang kamu percaya untuk mendengar harapanmu sembari menatap mata biru itu. Tawa yang bukan hanya karena kisah, tapi karena pujian konyolmu untukku. Tapi hal itu yang semakin membuatmu sulit dilupakan. Hal itu yang membuatku mengerti kalau kamu berbeda. Kamu membalik barbeque di hadapan kami untuk acara malam itu dan kembali bercerita tentang masa sekolahmu. Hingga kembang api pergantian tahun meluncur di udara, sesaat kita bertukar pandang. Aku tersenyum melihatmu yang sudah memandang ke udara. Rahang yang kuat dan senyuman yang manis. Semuanya sempurna dimataku. Kamu seperti sihir. Lalu seminggu setelah itu kamu menghilang. Hanya kabar dari sahabatmu yang bisa kudapatkan kalau kamu mendapat pekerjaan di tempat lain. Ini semua bukan ...

Kisah Masa Lampau

Gambar
Cause I'm not good at making promises - Perfect, One Direction Kerlap - kerlip pohon natal yang ada di jalanan memenuhi pandanganku saat ini. Kota ini masih seperti dulu. Masih seperti saat pertama kali aku mengunjunginya. Hanya saja kunjunganku kali ini bertepatan saat musim dingin. Kalau aku mengingat kunjungan pertamaku disini saat musim gugur aku bisa melihat kamu yang duduk di sampingku, menjelaskan seluk - beluk kota ini sambil membuat ku tertawa soal kisah masa lampau. Lampau? Kisah masa kecil. Saat kamu menjadi teman pertama di lingkungan perumahanku. Kamu yang dulu pernah berjanji mengajakku berkeliling kampung halamanmu saat kita sudah besar. Kamu yang berjanji akan minum teh bersama kakek dan nenekmu saat aku berkunjung di musim gugur. Janji kalau kamu akan mengajakku bersepeda berkeliling kampung halamanmu dan menari dibawa pohon maple yang daunnya berguguran. Semua itu sudah kita lakukan, ya semua. Tepat saat aku dapat tiket dan aku langsung menghubungimu. Begi...

Meminta Tanpa Keberanian

"Sialan." Aku benci kalau aku mengumpat. Tapi kalau berbicara tentang dirimu, aku bahkan kesulitan mengontrol diriku. Termasuk ucapanku. Kenapa sih kamu harus muncul di dalam benakku saat malam suntuk beberapa hari sebelum kembali ke sekolah? Padahal kita sudah tidak berbicara atau mungkin bertemu berbulan - bulan. Hingga akhirnya waktu itu mengajariku untuk melupakanmu. Kalau berbicara soal dirimu, aku mencoba memutar ingatanku dan menemukan alasan kenapa kamu kembali muncul di benakku. Mungkin karena pertanyaan di sosial media yang sudah menumpuk, dan baru saja terbaca. Tapi aku mengurungkan niat untuk menjawabnya. Atau karena namamu muncul di dinding facebook karena berkomentar pada salah satu album baru foto travelling temanku. Atau karena aku kembali melihat kontak bbm mu yang bahkan nyaris tidak pernah muncul di daftar notifikasi saat ini karena mencari kontak temanku yang memiliki huruf depan sama denganmu. Tapi sudahlah. Segala ingatan itu malah membuatku men...

#PuasaTahunIni Antara Aku, Koktail dan Gorengan.

Setelah melewati jalanan Taman Sari, kami berhenti di bangjo karena lampu berkedip menjadi merah. Aku menutup akun wattpad ku setelah menyelesaikan chapter 20 dan melihat keluar jendela. Sore hari, sekita pukul lima langit tidak secerah biasanya saat aku ingin pergi dari Jogja. Walau memang, Jogja lebih indah dan 'romantis' dinikmati saat malam. Adikku meminjam ponselku, sementara mataku masih fokus kepada suasana di jalanan. Seorang anak perempuan mengayuh sepeda, dibonceng adiknya. Mereka tertawa. Mataku berpindah kearah bapak - bapak yang menjaga bengkel nya. Dia terlihat tidak keberatan masih bekerja sampai hampir waktu berbuka, padahal ini Minggu.  Mataku kembali berpindah ke arah meja kayu yang berada diseberang jalan, ada sekumpulan remaja yang kelihatannya lebih tua dariku sedang menata takjil disana.Lalu beberapa memasang papan promosi. Aku melihat kearah benda yang berada di nampan. Lalu menelan ludah.  Mesin mobil kembali berbunyi, setelah lampu lalu ...

Dalam Gelap

Gambar
Soundtrack :  Outside - Calvin Harris (feat. Ellie Goulding) Kerlap - kerlip cahaya lilin masih menghiasi ruangan yang gelap. Sementara lampu utama menyoroti gadis yang berada didepan. Memegang mic , memimpin kami membaca harapan. Seharusnya aku menutup mata. Tapi diam - diam, aku mengintip. Meja bundar didepanku sedikit bergoyang saat beberapa orang disampingku bercanda, dan salah satu dari kami langsung mengingatkan. Dan aku kembali menutup mataku.  Mendengarkan gadis di depan berbicara mewakili harapan awal - awal kami membuatku semakin serius, menutup mata dan mengucapkan harapan - harapan itu dalam hati. Tak lama kemudian gadis itu memberi waktu untuk kami mengungkapkan harapan kami.  Aku punya banyak sekali harapan, dan untuk mengucapkannya satu batang lilin bahkan tak cukup. Tapi, aku berharap segalanya yang terbaik untukku. Tentunya selain harapan yang diucapkan gadis itu, dan harapan untuk keluargaku. Aku masih menunggu perintah meniup lilin, dan diam...

(Tidak) Berdetak Kencang

Gambar
 Soundtrack : Today - Willamette Stone Aku menatap teh yang masih sangat panas. Aku tidak tahu aku memesan 'sangat panas' tapi aku menjadi semangat duduk di sini sampai teh ini dingin. Lebih tepatnya, sampai dia datang. Dia. Masih dia yang seperti dulu. Masih dia yang selalu membuatku tersenyum saat melihatnya. Masih dia yang sering membicarakan hal - hal aneh. Dia selalu terlambat. Tapi, aku selalu memaafkannya. Walaupun dia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Aku menyeruput tehku yang nyaris dingin perlahan. Rasanya tidak enak jika sedingin ini. Dan sekarang, aku mengerutukki diriku karena tidak membawa A Girl Like Moi yang belum selesai kubaca. Suasana kedai yang semula sepi menjadi ramai dan beberapa pelayan kembali menawariku pesanan. Ini memang tidak selama sewaktu memendam rasa yang ada untukmu. Tapi, ini lebih menyebalkan. Jadi, setelah tiga pesan penuh kupanggil namamu akhirnya bel tanda datangnya pelanggan kembali berbunyi. Dan senyum itu. Senyum ya...

Over Again

“Mau bagaimana lagi, aku masih menyanyanginya.” Bahkan sampai sekarang aku tidak menyangka kamu mengucapkan hal itu di hari bahagiaku. Hari dimana harapanku kamu akan menyatakan bahwa kamu memiliki perasaan yang sama denganku. Tapi, apa bisa aku melarangmu mengatakannya? Aku kembali membuka akun facebook – ku. Ada beberapa notifikasi teman – teman yang kembali mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Aku menghela nafas panjang setelah membalas ucapan – ucapan itu. Bukan karena butuh tenaga yang besar untuk mengetik, tapi karena aku baru saja mendapat berita buruk! Buruk bagiku, maksudku. Bukan status facebook yang menjengkelkan, tapi momen path yang disalurkan lewat facebook . At Cinema 21 with … dan aku tak mau melanjutkannya. Great ! Itu bahkan setelah aku merayakan pesta ulang tahunku. Aku hampir saja melempar ponsel itu ke tempat tidur, tapi kegiatan stalking mengurungkan niatku. Aku memutuskan log in kembali akun path yang sudah bisa dibilang berdebu itu. Keb...

Semakin Jauh

Gambar
Salah satu alasan yang kusuka saat bosan pelajaran adalah pergi ke kamar mandi. Kamar mandi yang memang tak jauh dari kelasku punya sensasi tersendiri. Cermin yang didekat kamar mandi adalah teman dikala sedang berantakan. Dan, sekarang disinilah aku. Berhadapan dengan cermin dan sedang merapikan baju yang berantakan. Seperti hakikatnya, aku bisa melihat siapa yang ada didekatku lewat cermin. Aku menghela nafas panjang saat langkah kaki mendekat. Bukan hantu yang ada dipikiranku, tentu saja. Langkah kaki yang sekarang bisa kulihat siapa dia. Membuang sampah ke tempat sampah yang diletakkan di samping tembok. Siapa lagi yang kumaksud? Jangan lihat kesini.  Namun, itu hanya menjadi harapan yang tidak terwujud. Saat mata bertemu dicermin, aku tahu. Bahwa aku semakin jauh darimu. source: Google (:

Aku Berteduh

Gambar
Hujan.  Bau tanah basah langsung tercium begitu saja. Aku langsung membuka jendelaku dan menarik kursi untuk duduk disana. Melipat kakiku dan mengambil secangkir kopi yang sudah kubuat. Seperti aku bisa mendeteksi akan datangnya hujan, ya? Aku menghela nafas panjang dan menyeruput kopi. Rasa pahit dan asam yang tercampur membuatku merasa kesal. Seharusnya, kopi Aceh ini membuatku kembali bahagia setelah seharian melakukan kegiatan. Tapi nyatanya, sihir yang biasa dilakukan kopi ini tidak bekerja. Hujan semakin deras. Aku belum melepaskan mataku dari hujan saat ini. Meskipun lagu Sugar yang kusetel sebagai nada dering sudah berbunyi berkali - kali. Aku sama sekali tidak berniat mengangkatnya. Aku pernah mendengar kata - kata. "Hujan sangat kuat. Aku ingin sepertinya. Tetap kembali meskipun sudah jatuh berkali - kali." Hujan mulai berhenti tiba - tiba.  Kata - kata itu benar. Dan, aku ingin seperti hujan. Aku akan tetap bangkit dan kembali meskipun aku sudah jatuh. Ka...

Love Story

"Jadi yang mana dia?" "Oh, aku tidak ingin membicarakannya." aku sedikit kesal pada laki - laki itu. Dan sekarang dia malah mendekatkan wajahnya kepadaku dan tersenyum ceria. "Kenapa kau tak mau menunjukkan laki - laki itu?" "Oh, dear ..." Laki - laki itu menarik kursi di depanku dan mendudukinya. Sejujurnya, itu kebiasaannya. Ya, menarik kursi kosong di depanku saat aku duduk sendirian di kantin sekolah dan memulai pembicaraan gila kami. Lima bulan mengenalnya membuatku merasa benar - benar mengetahui segalanya tentang dirinya. Tapi tidak. Dia memperlakukanku sama seperti dia memperlakukan gadis gadis lainnya. Menyapa, tersenyum dan bercanda. Dan, aku benci. Aku benci kenapa aku tidak suka pada sifatnya yang itu. Aku tidak egois, aku memang ingin dia bersifat lebih kepadaku. Aku tidak egois, kan? Tidak. Karena itu hanya KEINGINAN dan keinginan tidak selalu terwujud bukan? Dan kalau bukan karena materi sains itu, kami tidak akan pernah ...

The Last Time

Gambar
Aku menghentikan langkahku yakin begitu sampai di sebuah kafe kecil di kawasan Regent's Park. Seharusnya aku menemui seseorang pagi ini. Tapi sudahlah, dia membatalkan janjinya beberapa menit lalu saat aku sudah sampai di Regent's Park. Aku langsung saja memesan kopi dan duduk di sudut kafe dengan novel terbaru John Green di tanganku. Aku sudah yakin dia akan membatalkan janjinya, jadi aku berjaga - jaga untuk membuatku tidak bosan. Sejujurnya, aku benci orang yang membatalkan janji ketika aku sudah akan menghadiri pertemuan itu. Tapi, dia satu - satunya orang yang bisa membuatku tidak mengatakan benci saat dia melakukannya.  Dia bukan siapa - siapaku. Dia hanya seorang mantan, yang kembali membuatku jatuh cinta kembali setelah aku menemuinya kembali beberapa bulan lalu di .... Jadi aku berterima kasih kepada pekerjaan yang membuatku bertemu kembali dengannya. Kalau bukan karena aku menjadi seorang pramugari di pesawat yang ia tumpangi dan turun di bandara lalu rehat sejen...

Street Kitchen

 " Love will always find a way ." –Sleeping Beauty Aku menghentikan langkahku tepat didepan Street Kitchen. Ya, tempat dimana awal perkenalanku dengannya. Kami bukan orang yang tidak saling kenal sebelumnya. Dia seorang fotografer dan tentu saja karyanya luar biasa. Jika tidak mana mungkin agency ku bisa menyuruhnya menjadi fotografer untuk katalog kami? Aku gadis yang gila saat itu. Aku memanggilnya begitu saja dan langsung mengajaknya makan siang. Well , saat itu mood ku memang buruk. Aku harus pulang malam dan berangkat dini hari untuk pemotretan. Tapi bagaimana lagi? Aku sudah menandatangani kontrak.  Entah kenapa tiba - tiba aku menceritakan semua masalahku padanya saat kami mengantri untuk mendapatkan makanan dari Street Kitchen (Kantorku memang berada tepat di dekat situ dan kebetulan aku memang tidak mau makan makanan yang disediakan kru) dan dia hanya membalasnya dengan senyuman. Dan aku tambah kesal dengannya sampai dia mengajakku menghabiskan makanan di ...